Tingkatan-tingkatan dalam Surga

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلّاً وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَحِيماً

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ : 95-96)

Cermatilah firman Allah, bagaimana Dia awalnya menjadikan perbedaan satu derajat, kemudian dibuat perbedaan beberapa derajat. Maka dikatakan, perbedaan pertama antara orang yang tidak turut berjihad karena halangan dengan orang yang berjihad. Sedangkan perbedaan kedua antara orang yang tidak turut berjihad tanpa ada halangan dengan orang yang berjihad.

Allah Ta’ala berfirman :
أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

“Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 162-163)

Dan Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut Nama Allah gemeterlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb merekalah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh ketinggian beberapa derajat di sisi Rabb mereka dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 2-4)

Dalam ash-Shahihain disebutkan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya penghuni Surga melihat para penghuni kamar-kamar di atas mereka seperti mereka melihat bintang-bintang terang yang tampak dari ufuk timur dan barat karena perbedaan yang ada di antara mereka.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah itu tempat-tempat para Nabi yang tidak bisa dicapai oleh selain mereka?” Beliau menjawab, “Benar, dan demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, laki-laki yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul.” Dalam lafazh al-Bukhari: “Di ufuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lafazh Imam al-Bukhari ini lebih jelas. Adapun lafazh ‘ghaabir’ dalam hadits ini adalah sesuatu yang akan pergi dan berlalu serta bersiap-siap terbenam. Penyerupaan ini ~dan bukan bintang yang berada di puncak langit meski posisinya paling tinggi~ mengandung dua faedah :

g3781Pertama, jauh dari pandangan mata.

Kedua, bahwa Surga itu bertingkat-tingkat, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lain, meski yang paling tinggi tidak terpisah dengan yang bawahnya, seperti kebun-kebun yang terbentang dari puncak gunung hingga ke lerengnya. Wallahu a’lam.

Dalam ash-Shahihain disebutkan dari hadits Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya penghuni Surga melihat penghuni kamar-kamar di Surga seperti kalian melihat bintang di ufuk langit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam al-Musnad disebutkan dari Abu Sa’id al-Khudri, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

“Dikatakan kepada ahlul Qur’an apabila masuk Surga, ‘Bacalah dan naiklah.’ Maka ia membaca dan terus naik. Setiap satu ayat (ia naik) satu tingkatan. Hingga dia membaca yang terakhir dari al-Qur’an yang bersamanya.” (Al-Musnad (3/40)

Hal ini sangat tegas menunjukkan bahwa tingkatan Surga lebih dari seratus tingkatan.

(Sumber : Wisata ke Surga, Ibnul Qoyyim, Griya Ilmu)

18197 Total Views 11 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.