Mengikis Ideologi Ekstrimis

Menjelaskan manhaj yang benar, membantah berbagai macam syubhat ahli bid’ah dan kesesatan para penentang Sunnah, mengupas secara tuntas berbagai macam syubhat musuh agama, membabat akar bid’ah dan mengikis pemikiran sesat, paham ekstrim, ideologi radikal dan aksi terorisme yang sudah mulai banyak tumbuh di Indonesia, merupakan bagian dari jihad paling utama, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka ialah Jahannam. dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (At-Taubah : 73)

Mengapa ahli Sunnah wal jamaah memerangi berbagai macam paham dan ideologi sesat dan para pelaku bid’ah termasuk jihad paling utama dan dakwah paling mulia? Karena orang yang membela, mengamalkan dan menghidupkan as-Sunnah serta memerangi kebid’ahan dan para pelakunya, menghadapi banyak tantangan dan rintangan.

g3775Syaikhul Islam berkata, “Seperti para tokoh bid’ah dari kalangan penebar pemikiran yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah atau para pelaku tata cara ibadah yang menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah. Maka, menjelaskan jati diri penentang sunnah dan memeringatkan umat tentang bahaya mereka berhukum wajib berdasarkan kesepakatan kaum Muslimin. Hingga pernah dikatakan kepada Imam Ahmad tentang orang yang melakukan puasa, shalat dan i’tikaf lebih kamu cintai ataukah orang yang berbicara tentang bahaya ahli bid’ah? Beliau berkata, Bila dia qiyamul lail, shalat dan puasa, demikian itu hanya untuk dirinya, sedangkan kalau dia berbicara tentang ahli bid’ah maka demikian itu untuk kepentingan kaum Muslimin hal itu jelas lebih utama. Beliau menjelaskan bahwa manfaat hal tersebut bersifat umum bagi agama kaum Muslimin dan termasuk jihad di jalan Allah. Pemurnian agama Allah, manhaj-Nya, syariat-Nya dan membantah kesesatan serta penentangan mereka terhadap agama Allah berhukum fardhu kifayah menurut kesepakatan kaum Muslimin. Jika bukan karena Allah menegakkan orang-orang yang membantah mereka, agama pasti rusak. Sementara rusaknya agama lebih besar bahayanya dibanding penjajahan musuh (secara fisik) dari para penjajah. Ketika para penjajah mampu menaklukan (secara fisik) tetapi mereka tidak mampu merusak hati dan ajaran agama kecuali secara tidak langsung, sementara mereka (ahli bid’ah) merusak hati mereka secara langsung. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 28/231-232)

Oleh : Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc

(Sumber : Menangkal Ideologi Radikal, Pustaka Imam Bonjol)

12891 Total Views 10 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.