Mengalah Untuk Menang

Dua saudara kandung, Ahmad dan Abdullah, sedang terlibat dalam pertandingan. Sang bapak telah menjanjikan hadiah menarik bagi pemenangnya. Ahmad kurang serius dalam permainan, bahkan secara diam-diam, ia sering kali membantu adiknya agar menang dalam permainan itu. Permainan selesai di menangkan oleh Abdullah, dan Ahmad langsung mengucapkan selamat kepada adiknya. Begitu juga sang bapak, sambil memberikan hadiah, ia pun mengucapkan selamat kepada pemenangnya, yaitu Abdullah.

Setelah pertandingan selesai sang bapak menemui Ahmad untuk memberi hadiah lebih menarik kepadanya dan mengatakan, “Engkau berhak untuk mendapat hadiah lebih bagus, karena telah berusaha menyenangkan adikmu ketika engkau mengalah dalam pertandingan itu.”

Kisah pertandingan di atas sengaja ingin saya persembahkan kepada sang suami agar berusaha mengalah dengan istri ketika terlibat dalam pembicaraan seputar kehidupan atau urusan rumah tangga untuk menyenangkan sang istri, selagi hal itu tidak membiarkan kebatilan atau menyia-nyiakan kebenaran, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Manusia yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling bermanfaat, amal perbuatan yang paling dicintai Allah adalah kegembiraan yang kalian masukkan ke hati orang Muslim atau kalian menghilangkan kesulitan darinya atau membayar hutang untuknya atau menghilangkan kelaparan darinya atau membayar hutang untuknya atau menghilangkan kelaparan darinya. Sungguh saya berjalan bersama saudaraku Muslim untuk suatu hajat keperluan lebih aku cintai daripada saya i’tikaf di masjid satu bulan.” (HR. Ibnu Dunya, dihasankan Syaikh al-Albani)

Dengan demikian sang suami berhak mendapat hadiah dari Allah berupa pahala besar, karena telah memerankan peran Ahmad dalam pertandingan di atas. Ia berusaha untuk menyenangkan hati istrinya agar merasa bahagia, percaya diri dan bersemangat, Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman,

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah : 195)

Betapa indahnya bila seorang suami sekali-kali mengalah dengan istri ketika bermusyawarah dengannya, apalagi ketika sang istri bersikeras membela pendapatnya. Andaikata suami ingat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di atas, akan mampu mengendalikan amarah dan emosi, serta mampu berbicara dengan lembut dan dewasa saat istrinya sedang kalap, bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di atas langit (Allah) akan menyayangimu.” (HR. Ahmad)

Wahai saudaraku sang suami, cobalah sesekali bersikap mengalah dalam rangka untuk meraih kemenangan dan hadiah lebih mahal. Dengan demikian kalian akan mendapat manisnya hubungan dalam bergaul dengan istri, sehingga hatinya tenteram dan bahagia. Semoga anda termasuk golongan laki-laki yang mulia, karena lebih mengutamakan kemaslahatan yang lebih besar dan secara umum tidak ada manusia yang sempurna.

Imam Ibnu Hazm berkata, “Berusahalah menjadi orang yang berdada lapang dan jangan menjadi orang yang licik, sehingga banyak orang yang menjauhimu hingga hal itu membahayakanmu bahkan membunuhmu.” (Lihat al-Akhlak was Siyar, Ibnu Hazm, hal. 126)

Apabila cinta suci nan sejati bersemi dan dibangun di atas pondasi kasih sayang dan saling menghormati, maka ikatan di antara pasangan suami istri akan menjangkau lebih jauh nilai-nilai kemanusiaan yang harmonis. Bila rasa tenteram dan damai yang dibutuhkan suami dapat diwujudkan, dia pasti perhatian kepada istrinya, menghargai perasaannya, dan rela berkorban untuk mengayominya.

Oleh. ustadz Zainal Abidin, Lc

(Sumber : Kalau Kau Jantan Ceraikan Aku, Pustaka Imam Bonjol)g3778

17005 Total Views 6 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.