Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ، فَقَالَ: «لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki beberapa orang kerabat, aku senantiasa menyambung tali silaturahim dengan mereka, tetapi justru mereka memutuskan hubungan denganku, dan aku juga berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka justru berbuat jahat kepadaku, dan aku ramah terhadap mereka, tetapi mereka (berpura-pura) tidak acuh terhadap diriku.”

Maka beliau bersabda: “Jika sikap kamu benar-benar seperti yang kamu katakan itu, maka seakan-akan kamu menelankan abu yang sangat panas kepada mereka. Dan Allah akan selalu memberi pertolongan kepadamu atas perbuatan mereka selama kamu tetap berbuat demikian.”

تسفّهملّ

berarti, seakan-akan engkau menelankan abu panas kepada mereka. Yang demikian itu merupakan penyerupaan terhadap apa yang mereka terima akibat perbuatan dosa yang mereka lakukan, yang sama seperti rasa sakit yang dialami oleh orang yang memakan abu panas. Sedangkan orang yang berbuat baik kepada mereka tidak mengapa dalam hal tersebut, sebab hal itu mereka peroleh akibat dosa besar yang mereka lakukan atas pengabaian mereka terhadap haknya, serta tindakan menyakitkan yang mereka lakukan terhadapnya. Wallahu a’lam.

Kandungan Hadits :g3797

1. Dasar pokok dalam mu’amalah antar sesama kerabat adalah berbuat baik, saling menyambung tali persaudaraan, bersabar dan saling mengingatka. Dan tidak sebaliknya, tetapi harus bisa menahan gangguan dalam rangka menyambung tali silaturahim.

2. Membalas keburukan dengan kebaikan merupakan pintu kembalinya pelaku keburukan menuju kebenaran, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“… Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fushshilat: 34)

3. Menjalankan perintah Allah termasuk sebab datangnya pertolongan Allah bagi hamba yang Mukmin

4. Seorang Muslim sepatutnya mengharapkan pahala dari amal shalihnya, dan hendaknya gangguan manusia seperti pemutusan hubungan mereka terhadapnya tidak memutus perbuatan / kebiasaan baiknya terhadap mereka.

Dalam masalah ini kita perlu mengingat teguran Rabb semesta Alam (Allah) terhadap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika dia bermaksud memutuskan hubungan dengan Musthah bin Utsatsah yang telah menyakitinya pada saat terjadi “Haditsatul ifki” (berita bohong). Di mana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah maha pengampun, Maha penyayang.” (QS. An-Nuur: 22)

 

Oleh : Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali

Sumber : Syarah Riyadhush Shalihin, Pustaka Imam Asy-Syafi’i

11911 Total Views 9 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.