LARANGAN MENJADI HAMBA DUNIA

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “تَعِـسَ عَـبْدُ الدِّيْنَارِ وَالدِّرْهَـمِ وَالْقَطِـيْفَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ.” أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu ia berkata: Rasūlullāh Sallallāhu ‘Alayhi Wasallam bersabda:

“Celaka budak dinar dan budak dirham, dan budak kain qathīfah.

Kalau diberikan dunia tersebut (entah dinar, dirham atau kain yang lembut tersebut) dia senang dan kalau tidak mendapatkan dunia tersebut diapun tidak rela (marah).”

(HR. al-Bukhari)

dinar

Qathīfah adalah kain yang lembut/halus, seperti kain yang terbuat dari sutra dan ada beludrunya atau semisalnya.

Para ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allãh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah ungkapan yang sangat indah dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Nabi memberitahukan kepada kita bahwasannya, ternyata, diantara hamba-hamba Allãh, ada yang disebut/dinamakan oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam dengan nama:

  • Hamba dinar
    • Hamba dirham
    • Hamba al qathīfah (hamba yang pekerjaannya hanya mencari kain yang indah).

Dan kenapa dinamakan “hamba”?

Karena benar-benar kehidupan mereka demi dinar dan dirham.

Benar-benar tujuan kehidupan mereka adalah untuk mencari dunia semata.

Dan orang seperti ini disebut oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan تَعِـسَ (celaka).

Kenapa ?

Karena dia bodoh.

Kehidupan dia ujungnya hanya ingin mencari dunia.

Dia lupa bahwasannya dunia hanya sementara dan ada kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Kenapa dinamakan dengan “hamba”?

Karena benar-benar dia penyembah harta, harta yang mengaturnya.

Dia menyangka tatkala mengumpulkan harta, dia akan menguasai dan mengatur harta tersebut.

Namun pada hakikatnya, sewaktu mengumpulkan harta tersebut dia sebenarnya sedang menyembah harta.

Kenapa ?

Karena harta yang mengatur kehidupannya.

Kalau harta mengatakan:

“Kau ingin meraihku, dengan meninggalkan shalat.”

Maka dia akan meninggalkan shalat.

“Kau bisa meraihku jika dengan durhaka kepada orangtua.”

Maka dia akan durhaka kepada orangtua.

“Kau bisa mendapatkan aku jika kau memutuskan tali silaturahmi atau bermusuhan dengan sahabatmu.”

Maka dia akan lakukan.

Dan ini adalah para penyembah harta.

Dan orang-orang seperti ini rela untuk:

  • Ribut dengan orangtua dan teman,
    • Meninggalkan shalat,
    • Berbuat zhalim,

demi untuk mendapatkan secercah dinar dan dirham.

Oleh karenanya, orang seperti ini kehidupannya diatur oleh harta.

Kalau harta mengatakan: “Tunda sholat !”, maka dia akan tunda shalat

Dengan demikian berarti:

⑴ Dia penyembah dinar bukan penyembah Allãh Subhānahu wa Ta’āla.
⑵ Dia menyangka menguasai dinar padahal dinar yang menguasainya.
⑶ Kehidupan dia orientasinya hanyalah dunia.

فَإِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ

“Kalau dia diberi harta dia senang.”

Karena itulah yang dia cari.

وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Kalau tidak mendapat harta (sementara sudah kecapekan mencari harta) maka dia marah.”

Karena orientasinya adalah dunia.

Dan ini sama seperti sifat orang-orang munafik yang Allãh sebutkan dalam surat At Taubah.

Kata Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَمِنْهُمْ مَنْيَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Diantara mereka ada yang mencela engkau (wahai muhammad shalallahu alaihi wa sallam) tatkala engkau membagi-bagikan harta sedekah (zakat)

Kalau mereka diberi (melihat dari) harta tersebut mereka senang (gembira). Dan jika mereka tidak diberi dari harta tersebut mereka pun marah.”

(QS At Taubah: 58)

Orang-orang munafik, mereka mencela Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam pembagian harta.

Mereka mencela Nabi bukan karena mereka memiliki ide yang lebih bagus dalam masalah pembagian (distribusi), bukan.

Seseorang mungkin memiliki distribusi yang jelek sehingga dikatakan, “Bukan begitu caranya, namun ada cara yang lebih baik.”

Sehingga mungkin wajar jika ada celaan tersebut.

Akan tetapi, ternyata orang-orang munafiq mencela Nabi bukan karena cara distribusi yang keliru, tetapi karena mereka tidak dapat bagian.

Marahnya mereka karena tidak dapat bagian.

Dan ini terkadang dilakukan oleh sebagian orang.

Mereka menampakkan kemarahan (pencelaan) seakan akan karena Allãh, tetapi ternyata bukan, melainkan karena mereka tidak dapat bagian.

Oleh karenanya, seseorang hendaknya menjauhkan diri dari sifat-sifat munafik dan berusaha untuk beramal yang orientasinya bukan dunia tetapi karena Allãh Subhānahu wa Ta’āla.

Bahkan sebagian ulama seperti Syaikh ‘Ali Bassam rahimahullāh menyebutkan:

Jika seorang, misalnya bekerja dalam kegiatan agama,

Mungkin dia sebagai ustadz, muadzdzin, pengajar TPA, penulis buku-buku agama, berdakwah, tugas agama apa saja.

dan dia mendapat upah/gaji,

kalau dia menjadikan upah/gaji ini sebagai tujuan utamanya (mengumpulkan harta dengan wasilah agama), maka ini sangat tercela.

Sesungguhnya dia adalah hamba dinar dan hamba dirham.

Akan tetapi jika dia menerima upah tersebut dari kegiatan agama yang dia kerjakan dan hanya sebagai sarana agar dia bisa:

  • Terus beribadah kepada Allãh,
    • Memenuhi kebutuhan anak & istrinya dalam rangka menjalankan ibadah kepada Allãh,

maka ini insyãAllãh sama sekali tidak tercela, niatnya tulus.

Ingat, asal niatnya harus disambung, jangan berhenti kepada hanya ingin memiliki dunia, tidak.

Tetapi niatnya harus bersambung sehingga dunia tersebut hanyalah sebagai sarana untuk:

✓ Bisa terus beribadah kepada Allãh
✓ Menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai hamba di atas muka bumi ini.

Semoga Allãh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita hamba Allãh yang hakiki, bukan menjadi hamba dinar, hamba dirham, hamba dollar, hamba rupiah atau hamba dunia-dunia yang lainnya.

والله تعالى أعلم بالصواب
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Tulisan Ustadz Firanda Andirja, MA

 

9742 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.