Kenapa Harus Cerai?

Ketika hawa nafsu membara menguasai diri dan setan dengan kejahatannya membisikan ke dalam hati, maka kata-kata cerai dengan mudah meluncur dari mulut sang istri yang kecewa dan emosi kepada suaminya. Ancaman, makian dan cercaan tidak ada hentinya keluar dari mulutnya. Dan di akhir pertempuran, tanpa beban sang suami meledakkan bom ke dada istrinya; “Kamu, saya ceraikan sekarang juga!”

Sang istri, siapapun orangnya pasti tersentak kaget, terperangah, sadar dari khilafnya dan terkulai lemas tak berdaya. Pikirannya kacau. Ternyata, suaminya benar-benar menceraikannya. Akhir pertempuran sengit dimenangkan setan. Keduanya kalah! Setan pun tertawa terbahak-bahak karena target utama setan tercapai, Allah berfirman,

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu”. (Al-Ma’idah:91).

CERAI

Tak ayal, keduanya menyesal dan menyisakan goresan luka batin yang sangat dalam. Rumah tangga yang selama ini dirajut dengan penuh pengorbanan jiwa, dibangun di atas ketulusan cinta siang malam, luluh lantak diterjang badai perceraian. Harta kekayaan yang dimilikinya porak poranda. Kehormatan keluarga tercoreng dan martabat suami istri ternoda. Anak-anak yang sedang tumbuh terenggut keceriaannya. Ini semua salah siapa? Semuanya akibat dari kezaliman yang dilakukan suami maupun istri, Allah menegaskan;

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan demikian itu kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagiaan yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al-An’am: 129).

Suami istri hendaknya tidak memperturutkan bisikan hawa nafsu dan godaan setan, mewaspadai berbagai macam kemaksiatan, menghindari sikap mengacuhkan kesalahan, dan bertaubat dari dosa-dosa yang melahirkan keresahan, kepenatan, dan kerugian. Janganlah suasana bahagia berubah menjadi lautan kesengsaraan dan ketegangan yang tidak bertepi akibat memperturutkan rayuan setan.

Allah berfirman,

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36).

Salah seorang ulama salaf berkata, “Saya melakukan maksiat kepada Allah, lalu saya menyaksikan bekas-bekas kemaksiatan itu tampak pada tingkah laku istriku dan hewan peliharaanku.” (lihat ad-Da’u Waddawa’, Ibnu Qayyim, hal. 87)

Kunci kebahagiaan rumah tangga hanya bisa diperoleh dengan keterlibatan semua pihak untuk menciptakan suasana bahagia, menjauhi sikap kasar dan keras, dan lemah lembut dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan keluarga. Wallahu a’lam

 

Ustadz Zainal Abidin, Lc

Dikutip dari buku beliau, “Kalau Kau Jantan Ceraikan Aku”

6832 Total Views 3 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.