Jual Mahal Akhirnya Tertinggal

Sebagai-gadis dengan gampang menolak lamaran seorang laki-laki yang baik dan shalih tanpa alasan yang benar. Penolakan itu seringkali hanya di karenakan perasaan bangga diri yang berlebihan atau dengan beralasan ingin meneruskan studi, atau pihak wanita melihat calon suami dianggap tidak cocok dan kurang serasi menurut ukuran hawa nafsunya bukan menurut selera agama sebagaimana Rosulullah Shalallahu’alaihi wasalam bersabda

Apabila Anda didatangi orang yang Anda sukai agama dan akhlaknya, maka kawinkan ia. Jika kalian tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. at-Tirmidzi)

 

 

jualmahal

Setiap ada pelamar yang datang, ia beranggapan bahwa yang dahulu lebih baik atau ia ingin mencari yang lebih baik lagi. Sementara di luar sana, para lelaki takut untuk melamarnya karena tidak ingin ditolak seperti para pendahulunya. Setelah sekian lama, akhirnya takdir pun menghampiri. Seorang pria datang meminangnya. Namun apa yang dia dapatkan? Pria itu sungguh tidak serasi dengan umurnya. Oleh karena itu Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wasalam menegaskan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu,

“Ada tiga perkara janganlah boleh ditunda tunda yaitu shalat ketika telah masuk waktunya, jenazah ketika telah siap (diurus) dan bujang ketika telah menemukan jodoh yang serasi.” (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)

Ada seorang gadis belia yang di karuniakan berbagai kelebihan dalam bentuk penciptaan dan penampilannya yang membuat para pemuda tergila-gila padanya, namun sangat di sayangkan terlalu emosional dan bernalar pendek. Setiap ada orang yang datang untuk melamarnya, pihak orangtua terlalu banyak harapan atau bahkan meremehkan, sehingga sang gadis semakin angkuh, sombong dan merasa tidak ada laki-laki yang pantas menjadi pendamping hidupnya.

Orangtua selalu khawatir terhadap masa depan anaknya, mereka ingin anaknya hidup bahagia mendapatkan jodoh seorang laki-laki yang shalih dan dikaruniai anak-anak yang shalih pula. Tanpa mereka sadari waktu berjalan sangat cepat. Ibarat bunga yang bermekaran, lambat laun putrinya menjadi perawan tua. Umur telah terkikis dan ditelan oleh keangkuhan. Lelaki yang diharapkan tak juga kunjung tiba. Kemudian semua berakhir dengan keputusasaan. Ia semakin merana dan kesepian.

Ketikia ia menengok ke tempat lain, ia pun menyaksikan seorang wanita bercanda bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Ia semakin gelisah. Harapannya sirna, yang tersisa hanyalah kekecewaan dan kekesalan. Sambil menangis ia berkata, “Aku tidak tahu kalau menjadi begini akibatnya kenapa kalian tidak memberi pertimbangan yang baik kepada ku?”

Sungguh tepat nasihat Hasan al-Bashri kepada seseorang yang pernah bertanya, “Saya memiliki anak perempuan. Dengan siapa, menurut Anda,seharusnya saya nikahkan? Beliau menjawab, “Nikahkanlah dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Jika ia marah kepadanya ia tidak akan menzhaliminya.” (Dalam Uyunul Akhbar, Ibnu Qutaibah ad-Dinawari, 4/308)

Akhirnya dia terpaksa menikah dengan laki-laki yang sudah lanjut usia. Ia harus menelan pil pahit dan menanggung berbagai beban untuk melayani suami yang sudah lanjut usia dan bertubuh lemah. Mereka tidak dikaruniai keturunan, hidupnya seperti hanya sekadar untuk menghabiskan waktu dengan kehampaan.

Sumber:

Kalau Kau Jantan Ceraikan Aku, ustadz Zainal Abidin, Lc

9843 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.