HUKUM BARANG KW

Yang dimaksud dengan merek dagang adalah: Nama, simbol, gambar, huruf, kata atau tanda lainnya yang digunakan oleh industri dan perusahaan dagang untuk memberi nama pada barang-barangnya dengan tujuan untuk membedakan diri dari yang lain. Biasanya merek dagang dilindungi oleh undang-undang. (lihat kamus besar bahasa indonesia, hal 577).

Merek dagang tidak dikenal di masa dahulu. Oleh karena itu para ulama kontemporer berijtihad mengeluarkan hukum tentang merek dagang.

Merek dagang dapat disamakan dengan manfaat (manafi’) yang dimiliki, dapat dipindah-tangankan dengan imbalan maupun tidak, dan tidak boleh dibajak. (lihat Dr. Abdullah as Sulami, Al Ghisysy wa atsaruhu fil ‘uqud, jilid II, hal 657).

Oleh karena itu, Majma’ Al Fiqh Al Islami (divisi fikih OKI) memutuskan dalam muktamar ke V di Kuwait, tahun 1988, no:43 (5/5), yang berbunyi, “Nama dagang, merek dagang dan hak cipta adalah hak pemiliknya. Dalam aturan dagang sekarang mempunyai nilai ekonomi, karena pemiliknya telah mengeluarkan biaya untuk memilikinya. Hak-hak ini juga diakui oleh syariat. Tidak boleh dilanggar (dibajak)”.(lihat Journal majma’ Al Fiqh Al Islami, edisi V, jilid III, hal 2267).

Ghisysy (pemalsuan) merek dagang biasanya dilakukan oleh orang-orang yang ingin mendapat keuntungan besar dengan cara memproduksi / membeli barang yang serupa dengan barang yang diproduksi oleh sebuah perusahaan yang terkenal, lalu memalsukan merek dagang perusahaan tersebut dan dibubuhkan oada barang tiruan. Dengan demikian pemalsu merek dagang tadi mendapat keuntungan yang besar, karena jika ia tidak memakai merek dagang perusahaan terkenal tadi, kemungkinan barangnya tidak laku atau tidak akan terjual dengan harga yang tinggi.
KW
Pemalsuan merek dagang jelas merugikan berbagai pihak. Tindakan ini merugikan perusahaan yang dipalsukan, karena umumnya kualitas barang palsu di bawah barang asli, tentunya pemalsuan ini akan menurunkan citra perusahaan yang dipalsukan, selain itu juga pencurian terhadap hak perusahaan lain. Juga merugikan pedagang yang menjual barang merek dagang asli, karena ada juga barang tiruan yang dijual dengan harga jauh dibawah harga barang asli. Dengan cara pemalsuan tadi maka pembeli lebih memilih barang tiruan. Dan ini jelas persaingan niaga yang tidak sehat. Juga merugikan pembeli, karena terkadang penjual tidak memberitahukan bahwa barang yang dijualnya palsu dan dijual dengan harga yang sama dengan harga barang asli. Seandainya pembeli tahu bahwa barang yang ditawarkan adalah palsu kemungkinan dia tidak mau membelinya sekalipun dengan harga lebih murah.

Dengan demikian pembeli telah membayar uang yang tidak ada imbalannya dari penjual, yaitu selisih antara harga barang asli dan barang tiruan. Ini termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang bathil, karena pembeli tidak ridha dengan barang palsu andai dia tahu.

Allah telah melarang hal ini dengan firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (An Nisaa’ :29)

(Sumber: harta halam muamalat kontemporer, Dr. Erwandi Tarmizi, MA)

22288 Total Views 14 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.