Hijrah Sepeninggal Rasulullah

Pertanyaan : Setelah meninggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah memungkinkan untuk berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawaban : Adapun kepada dzat dirinya, maka hal itu tidak mungkin. Sekarang ini, jika ada seseorang yang berhijrah ke Madinah, maka ia bukanlah berhijrah kepada pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab beliau sudah terbenam di bawah bumi. Adapun yang dimaksud hijrah kepadanya pada masa sekarang adalah berhijrah kepada sunnah-sunnah serta ajaran-ajarannya. Jika hijrahnya demikian, maka hal itu sangat dianjurkan syari’at Islam, seperti seseorang pindah ke suatu negeri dalam rangka membela dan mempertahankan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walhasil, berhijrah menuju Allah berlaku setiap saat, dan berhijrah keapda pribadi dan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlaku ketika beliau masih hidup. Adapun setelah wafatnya, maka yang berlaku hanyalah hijrah kepada syari’at (ajaran)nya saja.

Hal ini seiring dengan firman Allah Subhanahu w Ta’ala :

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya).” (QS. An-Nisaa’ : 59)

Artinya, hijrah kepada Allah, dan kepada pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya berlaku ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup. Adapun berhijrah kepada sunnah-sunnah beliau, maka tetap berlaku setelah beliau wafat. Barangsiapa yang pergi ke suatu daerah dalam rangka mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka termasuk dalam berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang berhijrah dari satu daerah ke daerah lain dalam rangka ingin mendapatkan seorang wanita yang akan dinikahinya, lalu di saat ia telah meminangnya, calon istrinya berkata: “Aku tidak akan menikah denganmu kecuali engkau tinggal di negeriku.” maka seperti ini termasuk kepada sabda beliau : “Maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang ia niatkan.” Sabda beliau “Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya,” seperti seorang pedagang yang pergi ke suatu daerah karena terkenal ramainya pasar di sana dan ia ingin mendapatkan keuntungan yang banyak di tempat tersebut, maka yang seperti ini masuk ke dalam kategori hadits di atas, dan ia tidak akan mendapatkan sesuatu yang lain melainkan apa yang dikehendakinya. Jika Allah berkehendak atasnya untuk tidak mendapatkan apapun, maka ia tidak akan mendapatkannya.

Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

(sumber : Syarah Hadits Arba’in, Pustaka Ibnu Katsir)g2991

12947 Total Views 11 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.