HARUSKAH MEMBERONTAK PEMIMPIN YANG ZHALIM?

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ، فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ، فَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: «لَا، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلَاةَ»

Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah Hindun binti Abi Umayyah Hudzaifah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; bahwasanya beliau pernah bersabda: “Sesungguhnya akan diangkat bagi kalian beberapa pemimpin, maka kelak kalian akan mengetahui (sebagian perbuatan mereka yang sesuai syari’at), dan mengingkari (sebagian perbuatan mereka yang melanggar syari’at). Barang siapa yang tidak menyukainya (pelanggaran tersebut) maka dia telah bebas (dari dosa), dan barang siapa yang mengingkarinya maka dia akan selamat. Tetapi siapa yang ridha dan mengikuti (maka dia telah bermaksiat).”

Para sahabat bertanya:”Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kita memerangi mereka?” Beliau menjawab: “Jangan, selama mereka masih mengerjakan shalat di tengah-tengah kalian.” (HR. Muslim)

Artinya, siapa pun yang dengan sepenuh hati membenci kemungkaran tetapi tidak mampu mencegahnya, baik dengan tangan maupun lidah, maka dia telah terbebas dari dosa; karena dengan amalan demikian, orang itu dianggap telah menunaikan tugasnya. Sedangkan siapa saja yang mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuannya, maka dia telah selamat dari kemaksiatan tersebut. Serta siapa yang meridhai perbuatan (kemungkaran) mereka, atau bahkan mengikuti jalan mereka, maka dia termasuk pelaku maksiat.

DDDDD

Kandungan hadits :

Di antara mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemberitahuan tentang sebagian hal ghaib yang akan terjadi.

Jika para pemimpin berbuat sesuatu yang bertentangan dengan syari’at, maka dilarang bagi umat untuk menyepakati mereka di dalamnya.

Umat manusia terbagi menjadi tiga (terkait amar makruf nahi mungkar). Pertama, orang yang membenci (kemungkaran) dengan hatinya, yang berarti dia telah terbebas dari kemaksiatan (dosa). Kedua, orang yang mampu mengingkari kemungkaran dengan tangan dan lidahnya, maka mereka selamat dari hukuman akibat dosa khusus. Ketiga, orang yang menganggap baik keburukan tersebut, maka dia terjatuh dalam murka Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam pada itu, shalat adalah pertanda keislaman seseorang sekaligus sebagai pembeda antara kekufuran dan keimanan.

Larangan mengobarkan fitnah dan perselisihan pendapat. Perbuatan ini dianggap lebih mungkar daripada menanggung kesabaran akan kemungkaran para pemimpin dan pelaku kemaksiatan serta bersabar atas hal-hal yang menyakitkan dari mereka, karena fitnah lebih berbahaya dan lebih kejam daripada pembunuhan.

Yang dijadikan tolak ukur dalam mengubah kemungkaran dan mengganti pemimpin adalah syari’at, bukan hawa nafsu, fanatisme, ataupun loyalitas kelompok.

Tidak diperbolehkan bersekutu dengan orang-orang zhalim dan membantu mereka, gembira pada saat melihat mereka, dan duduk-duduk bersama mereka tanpa keperluan tertentu yang dibenarkan syar’at.

Oleh : Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali

Sumber : Syarah Riyadhush Shalihin, Pustaka Imam Asy-Syafi’i

16702 Total Views 13 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.