Curilah Hati Suamimu

Kata-kata hikmah menyebutkan: “Sebaik-baik istri adalah yang taat, mencintai, bijak, subur lagi penyayang, pendek lisan (tidak cerewet), dan mudah diatur.”

Saudariku…

Ketaatanmu kepada suami dalam perkara yang ma’ruf dan kecintaanmu kepadanya akan mengangkat kedudukanmu di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Ingatlah selalu sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

“Jika seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, menaati suaminya, silahkan ia masuk ke dalam Surga dari pintu manapun yang ia suka.”

Ketaatanmu kepada suami akan mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan bagimu. Sebab, suamimu pasti akan sangat gembira tatkala melihatmu bersegera menaatinya, tidak bermalas-malasan dalam menunaikan apa yang dikehendakinya, sehingga ia pun terdorong untuk menaatimu dan menuruti keinginanmu yang tidak bertentangan dengan syariat.

Bahkan, bentuk ketaatan itu terkadang sampai pada taraf masing-masing dari kalian berdua senantiasa memahami apa yang diinginkan pasangannya tanpa perlu mengutarakannya.

Karena itu, seorang ibu pernah memberikan nasihat kepada putrinya di saat pernikahan putrinya itu : “Jadilah engkau seperti budak bagi suamimu, niscaya ia akan menjadi seperti budak bagi dirimu.”

Termasuk dalam arti menaati suami adalah engkau benar-benar mengharapkan ridhanya dan berusaha untuk meraihnya. Dan ketahuilah, apabila engkau bersungguh-sungguh melakukannya, berarti engkau telah menempuh jalan menuju surga.

Mungkin sekali setan akan membisikan ke dalam hatimu : “Aku juga punya kehormatan dan harga diri!” Apalagi ketika ada masalah di antara kalian berdua. Lalu kata-kata yang menipu ini mendorongmu untuk mencari pembenaran atas kesalahan-kesalahanmu.

Coba renungkan dalam-dalam! Kehormatan dan harga diri apakah yang harus dipertahankan di antara sepasang suami istri?

Sesungguhnya kehormatan suami istri adalah satu. Permohonan maafmu kepada suami sama sekali tidak akan mengurangi harga dirimu. Bahkan justru akan menambah kehormatan dan harga dirimu di sisi suami.

Lebih dari itu, permintaan maafmu, meski sebenarnya engkau tidak bersalah, akan membuatnya merasa malu terhadap diri sendiri. Dan akan membuatnya insyaf, sadar, dan mengoreksi diri.

Sumber : Surat Terbuka untuk Para Suami, Ummu Ihsan & Abu Ihsan al-Atsari – Pustaka Imam Asy-Syafi’ig2993

28987 Total Views 11 Views Today
Tagged with

Leave a Reply

Your email address will not be published.