Cara Menasihati Pemimpin di Pemerintahan

Nasihat untuk para umara’ dilakukan dengan :

1. Meyakini kepemimpinan serta otoritas mereka. Barangsiapa yang tidak meyakininya, berarti ia tidak termasuk orang yang menasihati mereka. Dengan tidak meyakininya, ia tidak akan melakukan perintah mereka dan tidak pula menghentikan larangannya. Maka yang pertama Anda harus meyakininya sebagai imam atau amir. Barangsiapa yang meninggal dunia sedangkan ia tidak melakukan bai’at kepada imam (yang diangkat berdasarkan kesepakatan kaum muslimin), maka ia mati dalam keadaan Jahiliyah. Dan siapa pun yang mengendalikan kepemimpinan kaum muslimin, sekalipun dengan cara kudeta, maka berarti ia seorang imam, baik dari bangsa Quraisy maupun bangsa selainnya.

2. Menyebarkan kebaikan mereka kepada rakyat, karena hal itu akan menambah rasa cinta rakyat terhadapnya, dan jika rakyat mencintainya maka mereka akan mudah diatur dan mengikuti perintahnya.

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang senangnya menyebarkan keburukan-keburukannya dan menyembunyikan berbagai kebaikannya, ini adalah perbuatan zhalim dan curang. Seperti menyebarkan satu keburukan mereka dan melupakan banyak kebaikan yang telah mereka lakukan, hal ini jelas merupakan kezhaliman.

3. Melaksanakan perintah dan menjauhi apa yang mereka larang, kecuali apa yang mereka perintahkan itu berupa maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq (Allah Ta’ala). Melaksanakan perintah mereka bukan berarti kita sedang melakukan politik, tapi kita katakan bahwa hal itu termasuk ibadah, dengan dalil bahwa Allah Ta’ala memerintahkan demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’ : 59)

Allah menjadikan ketaatan kepada mereka termasuk di antara ketaatan kepada-Nya dan apa yang diperintahkan Allah adalah ibadah.

Dalam ketaatan kepada mereka tidak disyaratkan bahwa orangnya harus bersih dari maksiat kepada Allah. Taatila perintah mereka (yang tidak bertentangan dengan syari’at), meskipun mereka bermaksiat kepada-Nya, karena Anda hanya diperintahkan mentaatinya, meskipun mereka sendiri bermaksiat kepada Allah.

4. Menutupi aib-aib mereka (tidak menyebarkannya) sebisa mungkin. Alasannya, bahwa tidak termasuk nasihat jika Anda menyebarkan aib-aib mereka, karena hal itu akan mengakibatkan hati (seluruh rakyat) termakan kebencian, kedengkian, dan kemarahan terhadap para pemimpin, dan jika perasaan seluruh rakyat sarat dengan hal itu maka akan sangat dimungkinkan terjadinya pembangkangan terhadap pemimpin, yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan dan keburukan yang hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.

Menutupi aib mereka bukan berarti kita membiarkan aib, bahkan kita wajib menasihati penguasa secara langsung -jika hal itu memungkinkan- atau melalui perantara para ulama atau orang-orang yang memiliki keutamaan (pengaruh). Oleh karenanya Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu mengingkari ucapan suatu kaum yang mengatakan: “Kamu belum melakukan apa pun dan belum menasihati khalifah.” Lalu beliau menjawab (yang makna)nya : “Apakah kalian mau aku menceritakan kepada kalian seluruh hasil pembicaraanku dengan khalifah?” Tentu hal ini tidak mungkin.

Maka termasuk perbuatan bijaksana, jika Anda menasihati penguasa, dan Anda tidak perlu menceritakan kepada orang-orang, karena hal itu bisa menimbulkan keburukan yang besar.

5. Tidak melakukan pemberontakan dan pembangkangan terhadap mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memberikan keringanan (tidak membolehkan) melakukan pembangkangan, kecuali sebagaimana yang beliau katakan : “kalian melihat (dengan penglihatan mata atau yakin) ia melakukan kekufuran yang nyata, sebab kalian memiliki keterangan yang nyata dari (agama) Allah dalam hal ini.”(HR. Al-Bukhari) Yakni dalil yang pasti.

Kemudian, jika masialah ini dibolehkan dengan syarat-syarat yang disebutkan, apakah artinya kita boleh secara langsung memberontak begitu saja? Karena di sana ada perbedaan antara boleh memberontak dengan harus memberontak?

Jawabannya, kita tidak dibolehkan langsung memberontak, meskipun nampak darinya kekufuran yang merupakan dalil yang nyata dari (agama) Allah, kecuali jika diyakini adanya kemaslahatan. Tidak termasuk maslahat jika kelompok kecil dengan sedikit persenjataan menghadapi satu kekuasaan negara yang lengkap dengan bala tentara dan persenjataannya, karena hal ini akan mengakibatkan pertumbahan darah dan menghalalkan yang haram (membunuh jika yang tidak tahu apa-apa), tanpa mendatangkan hasil. Padahal pada awalnya, mereka menginginkan hilangnya keburukan yang mereka ingkari dari penguasa. Sebagaimana pemberontakan yang dilakukan kaum Khawarij di zaman Khulafa-ur Rasyidin hingga zaman kita sekarang, di mana yang dihasilkan hanyalah keburukan dan kehancuran yang tidak diketahui seorang pun kecuali oleh Allah, Rabb-nya para hamba.

Akan tetapi sebagian orang tetap menyalakan api kecemburuan di hati mereka, kemudian mereka melakukan berbagai aksi yang hasilnya tidak terpuji. Ini adalah kesalahan yang besar.

Kemudian kita bertanya, jika demikian apa timbangan (ukuran) kekufuran, karena sebagaian orang menganggap kafir sedangkan sebagian lainnya tidak?

Jawabnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberikan catatan penting dalam sabdanya, yaitu “Kekufuran yang sangat jelas” yang tidak lagi memberikan kemungkinan lain, (artinya sudah pasti), misalnya Anda melihatnya sujud kepada patung, mendengar langsung dia mencela Allah atau Rasul-Nya atau (perkara kekufuran) lainnya.

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Dan (nasehat terhadap) kaum muslimin secara umum,” artinya orang awam di antara mereka. Nasihat terhadap mereka dengan cara menampakkan kecintaan kepada mereka, wajah yang berseri, mengucapkan salam (ketika berjumpa), memberi saran, bantuan, dan lain-lain yang termasuk kategori mendatangkan manfaat dan menghindarkan keburukan.

Oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

(sumber : Syarah Hadits Arba’in, Pustaka Ibnu Katsir)g3781

14758 Total Views 7 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.