Apakah Istri Wajib Membayar Kafarah Juga?

Berapakah ukuran harta untuk memberi makan enam puluh orang miskin? Apakah kafarah berbuka (karena Jima) satu hari di bulan Ramadhan juga diwajibkan atas istriku juga atau hanya untuk saya saja, yakni kafarahnya menjadi memberi makan 120 orang miskin atau hanya 60 orang miskin saja untukku dan istriku. Apakah boleh menyumbangkan dengan jumlah uang ke masjid atau amal kebaikan lainnya, ataukah harus memberi makan  60 orang miskin dan tidak boleh membayar kafarah dengan harta?

Jima Istri

Alhamdulillah, shalawat dan salam atas Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wasalam- juga atas shahabatnya.

Amma Ba’du,

Jika yang engkau maksud adalah sengaja berbuka di siang hari bulan Ramadhan, maka para ulama bersepakat atas wajibnya membayar kafarah bagi yang menyetubuhi istri di siang hari bulan Ramadhan. Namun, para ulama berselisih pendapat tentang wajibnya kafarah bagi yang menyengaja berbuka bukan dengan bersetubuh, meskipun mereka bersepakat bahwa berbuka dengan sengaja (selain jima) adalah salah satu dosa besar yang mewajibkan taubat. Pendapat yang kuat adalah tidak ada kafarah bagi yang sengaja berbuka (selain jima) yang wajib adalah mengganti puasa dan bertaubat.

Para ulama berselisih tentang istri, jika sang istri rela digauli suami. Apakah baginya kafarah atau tidak? Pendapat yang kuat adalah tidak ada kafarah baginya, meskipun sang istri rela digauli suami, yang wajib baginya hanyalah mengganti puasanya saja, karena puasanya telah rusak dengan jima. Adapun jika sang wanita dipaksa berjima oleh suami dan dia tidak rela, maka tidak ada kafarah baginya tanpa perselisihan dari ulama.

Apakah bagi suami dua kafarah atau satu kafarah saja? Yang dipegang jumhur ulama adalah bagi suami hanya satu kafarah saja.

Maka, kafarah wajib karena jima di siang hari bulan Ramadhan menurut pendapat yang kuat adalah membebaskan budak, jika tidak mendapati, maka berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu karena sesuatu yang tidak mungkin bisa hilang, maka memberi makan 60 orang miskin dengan makanan yang mengenyangkannya dari makanan pokok negeri. Dan kafarah wajib berurutan sebagaimana disebutkan jumhur ulama. Sedangkan madzhab Malikiyah berpendapat tidak wajib berurutan dan memberi makan orang miskin adalah lebih utama.

Adapun ukuran memberi makan ketika tidak mampu kafarah selainnya, maka kembali ke ukuran makanan 60 orang miskin di negeri  hidup orang yang melaksanakan kafarah, dan mungkin juga minta bantuan yayasan atau selainnya untuk menentukan ukuran makanan. Adapun menyumbangkan kafarah ke masjid atau amal kebaikan lainnya adalah tidak dibenarkan, akan tetapi harus menyampaikannya ke yang disebutkan oleh nash-nash wahyu (60 orang miskin) sebagaimana perkataan jumhur ulama setiap miskin satu mud atau yang seukurannya.

Wallahu a’lam

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=150233

Arif Ardiansyah, Lc

24880 Total Views 1 Views Today

Leave a Reply

Your email address will not be published.